Oleh Anita
Yossihara
Beberapa ibu
rumah tangga sibuk menata kue di rumah Nuriah (40) di
Kampung Cidemang,
Kelurahan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten,
Selasa (15/1) siang.
Ibu-ibu itu menyiapkan makanan untuk acara doa
bersama berkait meninggalnya
Slamet (45), suami Nuriah.
Sehari sebelumnya, suami Nuriah nekat gantung
diri hingga tewas di
sebuah kamar kosong di rumahnya. Jasad Slamet pertama
kali ditemukan
oleh istrinya yang baru pulang dari berbelanja di Pasar
Badak,
Pandeglang. Tubuh ayah empat anak itu sudah menggantung di
tengah
kamar, dengan seutas tali plastik melilit di
lehernya.
Sehari-hari Slamet bekerja sebagai pedagang gorengan di Pasar
Badak,
tepatnya di tepi Jalan Raya A Yani. Belakangan ini, kata
istrinya,
pendapatannya semakin menurun.
Slamet tambah tertekan saat
minyak tanah sulit didapat dan harganya
melambung. Apalagi kenaikan harga
minyak tanah bersamaan dengan
melonjaknya harga sejumlah bahan pangan,
seperti tepung terigu, tepung
tapioka, tahu, tempe, sayuran, dan minyak
goreng.
Empat hari sebelum meninggal, Slamet pernah mengeluh kepada
beberapa
wartawan yang datang untuk menanyakan dampak kelangkaan minyak
tanah
dan kenaikan harga. Ia mengatakan terpaksa membeli minyak tanah
dengan
harga Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per liter.
Setiap pagi sebelum
berjualan, ia mengambil 2-3 liter minyak tanah di
warung milik Enjen. Slamet
baru membayar minyak tanah pada malam hari,
sepulang berjualan. Namun,
menurut Enjen, beberapa waktu terakhir
Slamet memang mulai kesulitan membayar
minyak tanah.
Kondisi itu membuat Slamet merasa berat untuk melanjutkan
usaha
berdagang gorengan. Keluhan serupa juga pernah disampaikan
Slamet
kepada Ustadz Nurdin, tokoh masyarakat setempat.
Nurdin
menceritakan, sebelum Slamet bunuh diri, ia pernah mengeluh
selalu merugi.
“Modal yang dikeluarkan Rp 50.000 sehari, tetapi
pendapatannya cuma Rp
35.000,” katanya.
Bisa jadi beban pedagang gorengan itu bertambah berat
karena semua
harga bahan baku gorengan melonjak. Saat ini harga minyak goreng
di
Pasar Badak mencapai Rp 11.500 per kilogram, harga tepung
terigu
menjadi Rp 7.000 per kilogram, dan harga tepung tapioka Rp 3.800
per
kilogram.
Harga bahan baku gorengan lain, seperti tahu dan tempe,
juga naik,
bahkan sulit didapat kan akibat harga kacang kedelai melonjak di
pasaran.
Di Pasar Badak, tempat Slamet biasa berbelanja bahan baku,
tahu
berukuran sedang yang sebelumnya dijual Rp 500 sekarang menjadi Rp
750
per potong. Begitu pula harga tempe berbagai ukuran, naik rata-rata
Rp
500 dari harga sebelumnya.
Dugaan bahwa Slamet bunuh diri karena
tekanan ekonomi diperkuat hasil
visum di Rumah Sakit Umum Daerah Pandeglang.
“Tidak ditemukan adanya
bekas kekerasan fisik sehingga kasus itu murni
merupakan bunuh diri.
Besar kemungkinan penyebabnya adalah tekanan ekonomi,”
ujar Kepala
Kepolisian Resor Pandeglang Ajun Komisaris Besar Mamat
Surahmat.
Slamet bukan satu-satunya warga masyarakat yang menjadikan
gorengan
sebagai tumpuan hidup sehari-hari. Ada ribuan warga yang berharap
bisa
melanjutkan hidup dengan berdagang gorengan. Namun, jika harga
bahan
baku terus melonjak, apakah tidak mungkin ada warga lain yang
menjadi
senekat Slamet: memilih bunuh diri karena putus asa melihat
harga
bahan pangan yang semakin tak terjangkau.
Warteg juga
terancam
Di Jakarta, kemarin, sejumlah warung nasi, terutama warung
tegal
(warteg), diwarnai kekesalan pelanggan yang kehilangan lauk
kesayangan
mereka, orek (irisan kecil tempe goreng berbumbu yang
dipotong
memanjang, bercampur sedikit irisan cabai merah).
Di
lingkungan penggila warteg, orek memang hampir identik dengan
warteg. Di
samping murah meriah, cuma Rp 1.000-Rp 1.500, sebagai
pendamping nasi, orek
memang enak.
“Saya sudah 35 tahun jualan nasi, tapi baru sekarang saya
tak bisa
menyajikan orek karena tempe menghilang dari pasar tiga hari
ini,”
kata Mu’min, pemilik Warung Nasi Ojo Lali, yang berlokasi di
Jalan
Melati, Kelurahan Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, Jakarta
Barat.
Ketika kerusuhan Mei 1998, menurut dia, tempe dijatah,
masing-masing
cuma dapat lima bantal tempe. “Zaman perang, zaman Bung Karno,
zaman
geger G30S, zaman Pak Harto, enggak pernah tempe sampai hilang
seperti
sekarang,” katanya.
Kebetulan warungnya mengandalkan tiga
menu, orek, soto betawi, dan
bakwan udang. Setiap hari warungnya yang buka
pada pukul 10.00-20.00
menghabiskan antara lain tempe 15 bantal, tahu besar
15 potong, tahu
kuning 30 potong, beras setengah kuintal, dan minyak tanah 30
liter.
Karena menu orek absen, jumlah pelanggannya tiga hari
belakangan
berkurang, dari sekitar 250 orang setiap harinya menjadi 100
orang.
“Menu lain boleh mewah, tapi enggak laku kalau enggak ada orek.
Ambil
orek dulu, baru menu tambahan lainnya,” ucap Mu’min.
“Padahal
sebenarnya, meski dengan harga tinggi, kalau tempenya ada,
pasti saya beli
karena pelanggan saya tidak keberatan harga orek
naik,” katanya
menambahkan.
Mu’min berniat menutup warungnya kalau produk tempe dan
tahu
menghilang lebih dari seminggu, atau jika harga minyak tanah
mencapai
Rp 7.000 per liter. “Semua pemilik warteg pasti punya niat yang
sama
dengan saya,” tuturnya. (WIN)
http://www.kompas.com/kompas
Powered by ScribeFire.




Recent Comments